Kegiatan kunjungan ke situs-situs arkeologi di Kabupaten Lembata dilakukan di tiga situs arkeologi dilakukan pada tanggal 2 – 8 Februari 2026. Kegiatan ini dilakukan oleh tiga institusi yaitu dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS, Pusat Studi Prasejarah dan Austronesia) dan School of Archaeology and Museology, Peking University.
Kunjungan pertama adalah meninjau situs Lewoleba yang berada di belakang kantor Polres Lembata. Kondisi situs arkeologi ini lebih memprihatinkan dibandingkan tahun 2019 saat terakhir Puslat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian diwilayah ini. Abrasi air aut yang menghantam bibir pantai yang merupakan lokasi situs ini menambah kerusakan situs. Tidak akan lama lagi situs ini akan hilang terancam oleh abrasi alam jika tidak bisa diselamatkan.
Situs arkeologi kedua yang dikunjungi adalah Situs Lewoleba Selatan yang berjarak tidak jauh dari Situs Lewoleba. Situs ini masih dapat dikenali dan cukup terlindungi karena berada di lahan jagung penduduk. Tim menemukan gerabah pada permukaan ladang.
Situs arkeologi yang ketiga adalah Situs Wai Pukang, Berdasarkan artikel dari Truman Simanjuntak tahun 2012, Situs Wai Pukang berjarak 12 km arah timur laut Lewoleba. Situs ini menurut informasi berada tidak jauh dari SMP Katholik. Berdasarkan informasi tersebut tim melakukan kunjungan ke Situs Wai Pukang, namun terdaoat sedikit kesulitan karena tidak adanya koordinat situs dan hanya informasi saja. Setelah menemukan SMP Katholik yang dimaksud dalam artikel Truman Simanjuntak, tim melakukan survei permukaan untuk mencari indikasi temuan permukaan situs. Akhirnya tim menemukan jejak-jejak gerabah neolitik yang muncul dipermukaan tanah. Dengan penemuan ini dapat dipastikan lokasi penemuan adalah Situs Wai Pukang seperti yang disebutkan Truman Simanjuntak dalam artikelnya.
.jpeg)



Posting Komentar