![]() |
| Gb.1. Pertemuan CPAS – YDBL dengan sivitas UMK |
PATIAYAM MEMANGGIL
Berawal dari pemikiran “bagaimana suatu situs purba dapat memberi manfaat besar bagi masyarakat, pemerintah dan dunia, menginspirasi dan menguatkan identitas bangsa”
Dengan melihat potensi yang begitu besar berupa Kekayaan Fosil, penemuan dan pengumpulan fosil vertebrata dari Pegunungan Patiayam yang telah dimulai tahun 1857 oleh Raden Saleh dan Frans Wilhelm Junghuhn. Masyarakat Patiayam sekedar mengenal benda-benda tersebut sebagai “balung buto”. Ekspedisi Patiayam berlanjut tahun 1891 oleh Anthonie de Winter dan Gerardus Kriele hingga Eugene Dubois. Kemudian tahun 1930 oleh Van Es.
Kelengkapan Tinggalan berupa fosil, peralatan, evolusi lingkungan, menjadikan situs Patiayam merupakan situs yang langka dan layak mendunia? Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 100.000 koleksi tersimpan di Museum Patiayam yang dapat berkontribusi penting bagi pemahaman evolusi manusia dan lingkungan. Kurangnya publikasi dan penelitian yang dilakukan sifatnya parsial menyebabkan Situs Patiayam kurang dikenal. Kerusakan lingkungan wilayah Patiayam yang berada di lereng Gunung Muria menjadikan perlunya melindungi situs Patiayam.
CPAS dan Yayasan Dharma Bakti Lestari berinisiatif untuk melakukan pelestarian dan konservasi situs Patiayam, setelah ada laporan warga masyarakat tentang adanya fosil gajah purba Elephas hysudrindicus di Ngasinan pada tahun 2024. Inilah titik awal dan penting untuk membuka jalan ekskavasi lebih intensif hingga tahun 2025, dan ditemukan komponen fosil seekor gajah yang cukup lengkap.
Temuan tersebut menjadi bukti bahwa mamalia darat terbesar pernah hidup di Patiayam ratusan ribu tahun yang lalu dan Patiayam merupakan sebuah laboratorium alam yang penting untuk dilestarikan.

Gb.2.
Pertemuan CPAS – YDBL dengan Bupati Kudus
Kegiatan kerjasama antara CPAS – YDBL yang direncanakan berlangsung hingga 2029 untuk mewujudkan Patiayam sebagai situs identitas bangsa yang menginspirasi dunia, tentunya perlu peran sebagai situs identitas bangsa yang menginspirasi dunia, tentunya perlu peran penting dan dukungan langsung dari pemerintah daerah Kudus dan juga melibatkan lembaga pendidikan tinggi, Universitas Muria Kudus.
Untuk itu pada 6 Juni 2026 diadakan pertemuan antara CPAS – YDBL dengan sivitas UMK, dan pada 7 Juni 2026 dengan Bupati Kudus.
REKOMENDASI STRATEGIS secara umum dari hasil pertemuan antara CPAS – YDBL, Bupati Kudus dan Universita Muria Kudus adalah
· Sekretariat Bersama CPAS–UMK–Pemda untuk sinkronisasi ekskavasi Juli 2026.
· Masterplan Patiayam 2026–2029, mencakup penelitian, museum, ekowisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat.
· Persiapan Dokumen:
o Concept Note “Patiayam Memanggil”
o Policy Brief untuk Bupati Kudus
o Design Brief Museum Situs
(Wuryantari Setiadi)

إرسال تعليق