Kunjungan Situs Megalitik Lebak Cibedug dan Pasir Angin Bogor

Situs Lebak Cibedug.(Dok. BPCB Banten)
 
Pada tanggal 28-29 Juli 2023, CPAS Indonesia melakukan kunjungan singkat ke situs Lebak Cibedug dan Pasir Angin Bogor. Kegiatan ini diikuti 5 orang anggota CPAS dengan tujuan mengumpulkan data terbaru kondisi situs punden berundak Lebak Sibedug dan Pasir Angin. Situs Lebak Cibedug ini berada di lahan seluas ± 40.400 m². Punden Lebak Cibedug berdenah segi empat, terbagi dalam beberapa tingkatan ruang atau halaman dengan pola bangunan dibuat semakin ke belakang semakin tinggi. Terdapat jalan atau pintu masuk di sebelah barat melalui anak tangga yang berjumlah sekitar 30-an. Pada pintu masuk tersebut ditempatkan sebuah menhir yang berukuran cukup besar.


Kompleks megalitik Lebak Cibedug merupakan situs yang memiliki tinggalan yang bervariasi, berupa batu tegak, batu datar, dan tahta batu dengan punden berundak sebagai bagian yang paling sakral. Secara keseluruhan, tinggalan budaya di situs Lebak Sibedug memperlihatkan suatu kompleks struktur yang terdiri atas tiga punden yang semakin tinggi dari sisi barat ke arah timur. Punden pertama (sebelah barat) merupakan bagian (ruang) yang paling rendah dibandingkan dengan punden kedua dan ketiga. punden kedua terletak di bagian tengah, dan punden ketiga merupakan bagian inti yang terletak di bagian paling timur dengan posisi paling tinggi.

Situs Pasir Angin terletak di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Situs Pasir Angin berada di bukit kecil dengan tinggi ± 210 di atas permukaan laut, dengan ukuran bukit ± 500 m² yang membujur dari arah barat daya hingga timur laut. Situs Pasir Angin pernah diteliti dalam tahun 1970, 1971, 1972, 1973, 1975 oleh Tim dari Puslitarkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) di bawah pimpinan R.P. Soejono, hasil ekskavasi menemukan artefak-artefak yang dibuat dari batu, besi, perunggu, tanah liat, obsidian, kaca, gerabah. 
 
Benda-benda arkeologi yang ditemukan di situs ini antara lain berupa beliung persegi, kapak corong dengan tangkai berbentuk ekor burung seriti, kapak perunggu berbentuk candrasa, tongkat perunggu, bandul kalung perunggu, manik-manik batu dan kaca, ujung tombak, kapak besi, gerabah serta alat-alat obsidian. Semua benda tersebut terdapat dalam satu konteks di sekitar monolit dan merupakan peninggalan prasejarah yang unik, hampir semua benda temuan menghadap ke arah bidang datar utama monolit yang menghadap ke timur. Hal ini berarti bahwa kegiatan yang mencakup benda-benda tersebut dipusatkan pada batu besar ini yang merupakan ciri aspek kepercayaan megalitik yang telah berkembang pada tingkat neolitik dengan masyarakat yang hidup dengan bercocok tanam (MRF).

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama